David Mahendra / Musik / Pentas | Teater

Orchestra Kraton Ngayogyakarta

Kesenian merupakan bagian integral dari sebuah kebudayaan, tidak terkecuali di sebuah kerajaan seperti Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta. Di jawa, tempat berkuasa seorang raja disebut kraton. Kraton merupakan tempat tinggal keluarga raja beserta Abdi Dalem-nya (orang-orang yang setia kepada raja). Di dalam Keraton Kasultanan Ngayogyakarta sekarang tinggal keluarga Sultan Hamengku Buwono X. Pada salah satu bangsal kraton terdengar dengan jelas alunan irama khas gamelan Jawa. Instrumen Jawa yang terdengar itu merupakan kegiatan rutin kraton, yakni berupa Pagelaran Kesenian Karawitan. Kraton tidak hanya mengurusi masalah rakyat saja, tetapi juga mengurusi hal yang berkaitan dengan kesenian seperti karawitan ini. Untuk urusan yang satu ini pihak keraton menyelenggarakannya dengan merangkul semua seniman di Yogyakarta. Jadi tidak hanya abdi dalem saja yang bisa berpartisipasi dalam acara ini, tetapi kelompok gamelan di luar kraton pun diberikan kesempatan untuk tampil dan menghibur pengunjung, dan juga sekaligus ajang untuk mempertontonkan kebolehan mereka dalam bermain musik karawitan khususnya Gamelan ini.

Menurut KRT Purwodiningrat, pembina pegelaran karawitan di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, musisi yang terlibat ketika peliputan ini berlangsung adalah Klub Setyo Arum Budoyo yang berasal dari salah satu daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Gunung Kidul. Potensi musisi gamelan dari Gunung Kidul ternyata sangat besar, hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok karawitan yang berasal dari daerah tersebut. Selain itu ketika acara–acara tertentu pagelaran karawitan juga menjadi pilihan utama masyarakatnya. Gamelan yang dipakai oleh kelompok Setyo Arum Budoyo adalah  Gamelan Ageng yang berarti besar, karena jumlah alat-alat musik dan pemainnya yang banyak. Jumlah pemainnya sebanyak 24 orang yang terdiri dari empat orang Sinden atau Waranggono, lima orang Gerong atau penyanyi laki-laki dan selebihnya merupakan pemain musiknya.

Selama pertunjukan berlangsung kelompok ini membawakan tujuh Gending atau iringan musik, diantaranya adalah Gending Gajah Indro yang merupakan musik instrumentalia hasil ciptaan Sultan Hamengku Buwono I, Gending Roso Tungga Jati, Gending Tunggal Bekso dan seterusnya ada beberapa gending lagi. Yang menarik ketika pagelaran sedang berlangsung adalah  Ketika sinden mulai bernyanyi maka musiknya akan terdengar pelan atau dalam bahasa Jawa disebut Lirih, sedangkan ketika sinden berhenti bernyanyi maka alunan musik akan perlahan naik dengan tempo tinggi atau disebut dengan istilah Soran. Musik yang mereka bawakan seperti ini disebut dengan uyon-uyon atau Orchestra ala keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pagelaran karawitan ini juga diiringi oleh penari yang berlenggak-lenggok di hadapan penonton, berusaha menyampaikan cerita melalui gerakan-gerakannya yang anggun. Salah satu gerakan yang paling menarik adalah tarian ketika Gending Tunggal Bekso dimainkan, Si penari tunggal ini bertingkah seperti seorang anak gadis yang baru puber dan senang berdandan. Ini menggambarkan cerita kerajaan pada dahulu kala. Gerakan seperti sedang memakai bedak dan riasan lain membuat paduannya dengan musik gamelan menjadi sempurna. Selain musisi dari luar keraton tentu saja banyak sekali musisi yang merupakan abdi dalem keraton. Salah satu Sinden yang paling terkenal dan suaranya peling bagus menurut KRT Purwodiningrat adalah Bu Kasilah atau di keraton dikenal dengan nama Bu Condro.  Selain kegiatan rutin ini pagelaran gamelan juga akan dilaksanakan selma acara sekaten, namun gamelan yang dipakai bukanlah Gamelan Ageng melainkan Gamelan Kyahi Nagawilaga dan Gamelan Kyahi Gunturmadu. Pagelarannya pun tidak dilaksanakan di Bangsal Sri Manganti lagi, yang terletak ditengah-tengah komplek keraton tetapi di salah satu sudut Masjid Gedhe yang berdekatan dengan Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta.

Pagelaran karawitan ini merupakan bentuk keberhasilan pihak keraton dalam menjaga kebudayaan asli Yogyakarta. Penghargaan dari pihak luar baik itu pemerintah atau turis manca negara sangat besar. Antusias pengunjung dari turis manca negara terlihat dengan penuhnya kursi-kursi yang disediakan pihak keraton bagi pengunjung, tentu saja ini menjadi kebanggaan bagi kita ketika budaya lokal kita dikagumi oleh bangsa lain. Alangkah naif ketika kita malah tidak tertarik dengan kebudayaan kita sendiri.

 

Oleh David Mahendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s