Endah Amanah / Musik / Pentas | Teater

-Sub Headline- Gamelan Ageng , Jiwanya Pagelaran Karawitan Jawa

Sebagian besar masyarakat Jawa, gamelan bukan lagi menjadi hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Serangkaian alat musik yang biasanya digunakan untuk mengiringi suatu pertunjukkan atau bahkan sebagai sarana upacara. Hingga kini alunan musiknya masih sangat akrab ditelinga para pecintanya.

Lagi, Kraton Yogyakarta kembali mempersembahkan sebuah pagelaran karawitan gamelan dan sendratari pada Kamis, 22 November 2012 pukul 10.00-12.00 WIB. Sebuah pagelaran yang kerap ditampilkan oleh pihak kraton, yang pada saat itu mempersembahkan 7 gendhing (lagu) dengan menggunakan serangkaian iringan alat musik yang biasa disebut gamelan ageng. Pengantar pertunjukkan yang disampaikan oleh seorang abdi dalem cukup unik, yaitu dengan menggunakan dua bahasa, Bahasa Jawa halus dan Bahasa Inggris. Menurut Bapak KRT.Purwodiningrat, seorang pembina karawitan yang pentas pada saat itu, pertunjukkan gamelan ini masih sangat diminati oleh para pengunjung Kraton, maka dari itu pagelaran semacam ini masih akan terus digelar secara rutin oleh pihak Kraton.

Gamelan sendiri merupakan seperangkat instrumen ansambel tradisional Jawa. Memiliki tangga nada pentatonis dengan laras pelog dan laras slendro. Gamelan ageng (lengkap) berfungsi untuk menyajikan gending-gending, mengiringi pementasan wayang orang, wayang kulit, ketoprak, dagelan Mataram, taria-tarian Jawa dan sebagai sarana upacara.

Penyajian gending dalam karawitan dapat dibedakan menjadi dua yaitu,

  1. Soran, adalah penyajian gending-gending dengan volume tabuhan yang keras. Semua ricikan ditabuh kecuali gender, gambang, rebab, suling, dan siter. Penyajian Soran dapat dimainkan dengan tempo seseg. Tanggung, dan antal.
  2. Lirihan, adalah penyajian gending-gending dengan volume tabuhan yang halus/pelan. Semua instrumen dalam gamelan ditabuh meskipun yang diutamakan adalah tabuh ngarep, seperti gender, gambang, rebab, siter, dan suling dengan menggunakan variasi permainan tempo yang berbeda-beda. Bentuk penyajian karawitan lirihan dapat dibedakan lagi berdasarkan ricikan yang dipergunakan, antara lain : gadon, nyamleng, siteran, genderan, dan lain-lain.

Gamelan ini tentunya selalu dirawat dan disimpan di dalam Kraton. Tempat penyimpanan gamelan di Kraton di letakkan di Bangsal Trajumas. Gamelan biasanya dimainkan oleh sekelompok orang, dan tidak bisa dimainkan secara individu. Di Kraton, gamelan dimainkan oleh beberapa abdi dalem Kraton. Alat musik gamelan sangatlah menarik, unik dan khas. Mulai dari nama gamelannya, bentuk-bentuk gamelan, hingga suara yang dihasilkan oleh masing-masing alat musik itu sendiri. Misalnya saja gong, gong mempunyai bentuk yang unik, bulat besar dan di tengahnya ada semacam tonjolan. Jika tonjolan itu dipukul maka akan berbunyi “gong” dengan nada yang besar. Gong sering dibunyikan saat akhir ketukan, setelah kenong, kempul dan alat gamelan lain dimainkan. Jadi gong sebagai musik penutup irama alunan karawitan/gendhing dalam sebuha pertunjukkan.

Alunan musik gamelan yang dipersembahkan siang itu terasa menyejukkan hati, mendayu-dayu, dan enak didengar, semakin lama mendengar semakin terasa selaras dan terkadang bisa membuat seseorang menjadi mengantuk karena harmonisasi alunan nada dari gamelan itu sendiri. Pertunjukkan gamelan yang berakhir dengan suara applause para penontonnya menyiratkan ada kepuasan di hati dan benak para penikmatnya kala itu. Menambah suntikan semangat bagi para abdi dalem untuk selanjutnya terus menampilkan pagelaran yang lebih baik lagi di esok hari.

 

Oleh:  Endah Amanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s