Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior / Listyaning Restiti

nDalem Sopingen, Tempat Singgah Zaman Dulu

Yogyakarta memiliki sejuta keindahan yang tersaji dalam setiap sudutnya, dengan nilai-nilai historisnya dan juga saksi bisu keberadaan kota ini. Yogyakarta memanglah masih mengedepankan kekentalan dan kelenturan tradisi dan budaya. Salah satunya kawasan Kotagede yang merupakan cagar budaya di Yogyakarta. Kekhasan yang dimiliki Kotagede dalam kehidupan masyarakatnya baik budaya dalam bentuk fisik maupun non fisik menjadi pembuktian bahwa kawasan Kotagede memiliki image sebagai kawasan (tempat) bersejarah.

Salah satu kebudayaan fisik yang masih ada dan berdiri kokoh di kawasan Kotagede adalah nDalem Sopingen yang merupakan ruang publik pada era 1900-an. Ruang publik sendiri diartikan sebagai ruang yang digunakan untuk umum, juga sebagai tempat kegiatan masyarakat sekitar dengan penggunaan serta penataan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. nDalem Sopingen sendiri adalah kediaman yang memiliki bangunan pendopo milik keluarga R. Amat Sopingi yang terletak di desa Trunojayan Kidul, kelurahan Prenggan Kotagede dengan nomor persil 314. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 2096,75 m2  dengan luas bangunan sekitar 1800 m2.

Sebagai seorang Abdi Dalem pada era itu, Amat Sopingi mempersembahkan rumahnya menjadi tempat singgah, peristirahatan, serta perkumpulan bagi para pejabat Kerajaan Mataram yang akan berziarah di makam raja-raja Mataram.

Kekhasan yang dimiliki oleh nDalem Sopingen sendiri terletak pada atap-atap yang berbentuk datar dan menonjol berbentuk segitiga, dengan jenis atap Limasan yang sejajar dengan jalan. Bentuk atap seperti nDalem ini sering dikenal dengan nama Joglo. Tidak hanya atap yang mencerminkan kekhasan dari Kotagede, namun juga pada bentuk bangunan yang menyerupai bangunan Jawa pada umumnya, hanya saja yang membedakan dengan bangunan Jawa adalah tembok-tembok yang mengelilingi bangunan utama. Tembok-tembok ini merupakan perisai yang dibangun setinggi bangunan utama serta tebal dengan sebuah regol utama atau pintu besar sebagai jalan utama. Selain itu bangunan-bangunan utama dibangun berhimpitan satu dengan yang lain sehingga membentuk seperti lorong-lorong kecil.

Semenjak tahun 1984, nDalem Sopingen telah diwariskan kepada ketiga anak Amat Sopingi yang masing-masing dari mereka menempati bagian-bagian samping bangunan. Sedangkan bagian tengah tetap difungsikan sebagai fasilitas umum. Dan sejak tahun 1990an, bangunan pendopo yang merupakan bagian dari nDalem Sopingen dan difungsikan sebagai fasilitas publik telah dijual, sehingga bangunan ini seperti kehilangan aura monumen kenangan sebuah keagungan aktifitas ruang publik yang mampu menampung siapa saja yang bisa memanfaatkannya.

Oleh : Listiyaning Restiti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s