Marisa Bikriy Azkiya / Pentas | Teater / Seni Pertunjukan

-Sub Headline- Yogyakarta, Dhemit Lambangkan Suara Rakyat

Menyuarakan hak orang yang tertindas diwujudkan oleh mahasiswa kelas Sastra Indonesia semester 5, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka juga tergabung dalam Patlikur Teater di UNY. Melalui pementasan teater “Dhemit “ ini, mereka berusaha menyampaikan kritikan kepada birokrasi yang berkuasa.

Pementasan ini bertempat di Gedung Stage Tari Tedjakusuma Fakultas Bahasa dan Seni UNY pada tanggal 3 Desember 2012. Pementasan ini berangkat dari tujuan awal para mahasiswa semester 5 Sasindo untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Drama. Kemudian muncul ide untuk mengangkat drama “Dhemit” yang merupakan hasil karya dari almarhum Heru Kesawa Murti (Gandrik). Oleh karena itu, mulailah pementasan drama oleh mahasiswa Sasindo pada pukul 7 malam yang telah disiapkan selama 2 bulan.

marisa-dhemit-Pementasan ini bercerita tentang sekelompok dhemit yang mengeluh karena tempat tinggal mereka telah diusik oleh manusia. Sebuah pohon yang menjadi kediaman para dhemit akan segera ditebang oleh manusia untuk menjalankan sebuah proyek. Mereka berusaha mencari perlindungan kepada makhluk jenis lain. Mereka bertemu dengan jin yang dipanggil Lurahe Ia dan meminta perlindungan sekaligus tumpangan tempat tinggal.

Dalam drama ini, masalah-masalah yang terjadi di alam dhemit muncul mencerminkan kehidupan di dunia manusia. Didalamnya, terdapat percakapan tentang perilaku manusia dan dhemit yang saling berlawanan. Golongan manusia yang dianalogikan sebagai kalangan atas (birokrat) yang sombong dan suka menindas. Sedangkan dhemit yang menjadi kaum tertindas seperti rakyat. Daya pikat dhemit dalam dialog sarat dengan sindiran tajam, lucu, dan akrab dengan keadaan sosial kini sehingga terasa aktual tapi tetap disuguhkan menyenangkan.

“Pementasan ini untuk menyinggung kalangan birokrat atas dan memperlihatkan suara hak orang yang tertindas. Karenanya, naskah ini juga masih relevan dengan kondisi sekarang,” ujar Sutradara Nafilah (Sumber : krjogja.net).

Dikatakan juga, sebelumnya Nafilah sudah mempelajari beberapa elemen masyarakat dan birokarsi yang ada di kampus. Ia juga melihat referensi pementasan ini sebelumnya dan sempat berdiskusi dengan tokoh teater Gandrik.

“Selain itu, naskah ini saya adaptasi dengan akhir yang berbeda. Jika pada naskah aslinya ada pohon yang meledak dan meruntuhkan golongan manusia dan dhemit. Kali ini, pohon itu tidak meledak. Akhir dirubah dengan manusia yang mengalami kekalahan,” ujarnya (Sumber : krjogja.net).

Meskipun mengalami kesulitan dalam prosesnya karena para pemain merupakan orang baru dalam bermain drama tetapi mereka dengan cepat menyesuaikan diri dengan karakter dalam drama ini.

Ini lah yang menjadi keistimewaan Yogyakarta tidak hanya sebagai Kota Pelajar tetapi  juga Kota Seni. Sebuah replika kritikan untuk birokrat Indonesia dalam sebuah kota kecil, Yogyakarta.

 

Oleh : Marisa Bikriy Azkiya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s