Musik / Pentas | Teater / Seni Pertunjukan / Sukaenah

Demam “Stand Up Comedy” Yogyakarta

Stand up comedy merupakan hiburan sekaligus seni “melawak” yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan dan disukai oleh para remaja. Sejak munculnya Raditya Dika, stand up comedy seakan meroket dan semakin akrab disetiap telinga orang, khususnya oleh seorang remaja. Mungkin bisa dikatakan Stand up comedy adalah lawakannya anak remaja masa kini.

Begitupun dengan stand up comedy yang ada di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta ini yang baru berumur 8 bulan ini, terhitung dari 29 Maret 2012. Sejarah ini dimulai dari salah satu mahasiswa fakultas Dakwah UIN Suka yang bernama Mukti iseng-iseng ikut open mic di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), dan kemudian ha ini mendapatkan respon yang baik dari komunitas stand up comedy Yogyakarta sehingga kemudian dibuatlah sebuah komunitas stand up comedy di UIN. Hingga dengan saat ini anggota aktif dari stand up comedy UIN Suka berjumlah tujuh orang, dari berbagai fakultas yang ada di UIN Suka.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa stand up comedy merupakan seni melawak. Hal ini senada yang dituturkan oleh Coip dan Hisdan, anggota dari stand up comedy Uin Suka “Stand up comedy merupakan seni melawak, dimana orang dapat berkarya. Tidak semua orang bisa, tapi bisa dipelajari”. Stand up comedy dilakukan dengan menggunakan materi yang sudah dipersiapkan dan dipelajari sebelumnya, namun bisa saja terdapat improvisasi ketika pementasannya dengan melihat situasi yang ada, dalam teknik stand up comedy disebut resting, tapi kemudian setelah impov tersebut dilanjut dengan materi yang sudah disiapkan. Sebenarnya terdapat beberapa teknik dalam stand up comedy, salah satuya adalah resting yang telah disebutkan di atas.

Seorang comic harus mampu mencari bahan stand up comedy, ngelawak, dan menyelesaikannya sendiri. Menurut Hisdan “ Stand up comedy merpakan pertarungan hidup dan mati, kalau awalnya suasananya sudah boring maka sampai akhir juga akan boring”. Oleh karenanya sang comic diharapkan mampu menguasai materi dan mampu berimprovisasi, tapi tenang saja hal ini dapat dipelajari.

Perbedaan stand up comedy dan lawakan lainnya lebih terletak pada properti. Kebanyakan seorang comic tidak menggunakan properti apapun, hanya bermodalkan materi yang sudah disiapkan dan kematangan individu dalam aksi stand up comedy nya.

Terdapat beberapa tingkatan dalam stand up comedy. Open mic merupakan tingkatan pertama dalam stand up comedy, biasanya digunakan untuk menguji seorang comic dengan materinya dan pembawaannya. Kemudian stand up show yang merupakan tingkatan stand up comedy yang sudah dijamin lucu dan tidak diragukan lagi hiburan atau lawakannya.

Audience merupakan faktor terpenting dalam sukses tidaknya sebuah stand up comedy, audience yang tidak bersahabat dan mengganggu berlangsungnya stand up comedy yang ada akan membuat seorang comic ngedrop dan tidak berkonsentrasi pada materinya. Oleh karenanya teori stand up comedy mengenai tempat, lebih menyarankan indoor dari pada outdoor. Namun di lingkungan UIN Suka, Coip dan Hisban mengaku akan lebih terkondisi jika tempat stand up comedy berada di outoor.

Untuk keberlangsungan komunitas ini, mereka mengadakan kegiatan setiap bulannya di UIN Suka. Sekaligus untuk sosialisasi komunitas mereka ke UIN khususnya, dan peminat stand up comedy pada umumnya.

 

Oleh : Sukaenah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s