Endah Amanah / Musik / Seni Pertunjukan

-Sub Headline-TEMBI RUMAH BUDAYA, HADIRKAN MACAPAT MALAM RABU PON


20120616-4
Tembi Rumah Budaya (TRB) berdiri di atas lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi, yang diselengi oleh hamparan sawah organik, TRB mempunyai sejumlah fasilitas wisata. Hampir semua fasilitas yang ada merupakan curahan ekspresi kecintaan Nuranto pada sejarah keluarganya. ”Sebagai contoh, untuk menghormati kakekku, rumah-rumah inap yang ada di sini diberi nama sesuai dengan desa atau kota yang pernah ditinggali kakekku yang berkarya sebagai guru,” papar Nuranto, sarjana Sastra Jepang dari Universitas Indonesia, dan master bidang Studi Asia dari Cornell University, Amerika Serikat.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh TRB ini. Kegiatan Budaya Jawa adalah sebagai “kelanjutan” dari Lembaga Studi Jawa. Tembi Rumah Budaya tetap meneruskan kegiatan yang sudah dijalankan oleh pendahulunya itu seperti, penelitian, pendokumentasian, dan praksis Budaya Jawa masih terus dijalankan. Dalam kegiatan praksis, secara rutin diselenggarakan aneka kegiatan kebudayaan yang melibatkan komunitas, antara lain karawitan, macapatan, jamasan keris, kursus pranata adicara, dan sebagainya.

20120616-2 (2)

Seni tembang macapat yang biasanya digelar setiap 35 hari sekali (selapan) dengan mengambil jadwal tiap malam rabu pon adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Pertunjukkan tembang macapat yang dimulai pukul 20.00-23.00 WIB terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya sepeserpun. Untuk bulan desember tahun ini, tembang macapat akan digelar kembali pada tanggal 4 Desember 2012 dengan jam dan tenpat yang sama.

Tembi Rumah Budaya yang berlokasi di Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon Bantul 55188, Yogyakarta, juga membuka semacam pelatihan (kursus) bagi mereka yang ingin belajar dan menguasai kegiatan kebudayaan ini. Kursus tembang macapat ini juga terbuka untuk umum, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, dan umum. Terbagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas klasikal dan privat. Kelas klasikal dibuka jika pesertanya lebih dari 10 orang, sedangkan kelas privat yang diadakan setiap hari Senin dan Kamis hanya berlaku bagi 1-2 orang saja. Tarif yang dikenakan untuk mengikuti kursus ini cukup terjangkau, hanya dengan Rp.100.000 saja, peserta kursus sudah dapat mempelajari 11 tembang macapat yang tergabung dalam 1 paket pembelajaran selama 3 bulan.

Menurut Bapak Herjaka, selaku pembimbing tembang macapat saat ini, tentunya banyak pelajaran yang dapat diambil dari materi 11 tembang tersebut, seperti mengajarkan tentang perlunya sebuah budi pekerti, berbagai wewarah (nasehat orangtua), pedoman hidup, tulak bala, dan sebagainya.

Pada Edisi ke sepuluh ini tembang yang dipakai untuk belajar adalah tembang Pucung Tunjungseta. jenis lagu Tunjungseta ini bernada Slendro Pathet Sanga dengan syair berikut ini:

Bapak Pucung cangkemu marep mandhuwur
Sabane ing sendhang

Pencokane lambung kering
Prapteng wisma si Pucung mutah kuwaya

terjemahan :
Bapak Pucung mulutmu menghadap ke atas
kebiasaannya pergi ke sendang
membawanya diletakkan di pinggang kiri
sampai di rumah si Pucung memutahkan air

20110810-3

Tembang satu pada tersebut adalah merupakan tembang cangkriman atau tembang teka-teki. Yang dijadikan teka-teki adalah Bapak Pucung. Misalkan Bapak Pucung adalah X.

Siapakah X yang mempunyai mulut menghadap ke atas?

Siapakah X yang Kebiasaan pergi ke sendang atau telaga kecil?

Siapakah X yang cara membawanya diletakkan di pinggang kiri?

Siapakah X yang setelah sampai di rumah memutahkan air?

Jawabannya X adalah Klenthing. Yang dimaksud Bapak Pucung adalah Klenthing, tempat untuk mengambil air yang terbuat dari tanah liat. Tembang cangkriman ini banyak diciptakan dengan tujuan untuk melatih kecerdasan anak.

Walaupun tembang Pucung Tunjungseta di atas mengacu pada nada gamelan Slendro Pathet Sanga, dalam membawakan tembang macapat tidak harus sama dengan nada gamelan. Tinggi rendahnya nada dapat disesuaikan dengan kemampuan suara penembang. Karena pada dasarnya tembang macapat tidak diiringi dengan gamelan.

“Ada sekitar 30 peserta aktif yang datang dan nembang secara bergantian. Disamping peserta aktif ada peserta pasif, peserta yang tidak ikut nembang, hanya melihat dan mendengarkan, seperti malam itu ada satu mahasiswa dari Sanatadarma bergabung untuk menikmati tembang-tembang yang dilantunkan dan gending-gending yang dikumandangkan. Selain diselang-seling antara tembang dan gending Jawa, ada kalanya keduanya disatukan. Beberapa pecinta macapat diberi kesempatan untuk nembang diiringi dengan gamelan. Tidak berlebihan jika beberapa peserta macapat menanti-nantikan acara macapat malam Rabu Pon yang terjadi pada siklus 35 hari sekali. Karena bagi mereka acara tersebut dapat sebagai hiburan untuk merabuk sukma dan mendangir raga. Raga yang mulai rapuh, yang dimiliki oleh sebagian besar pecinta seni tembang macapatan” ungkap Pak Herjaka.

Oleh : ENDAH AMANAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s