Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior / Ryan Afranata

Menyelami Kekhasan Kesenian Wayang

Kesenian wayang kulit adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut Ki Herman Sinung Janutama, pemerhati filsafat dan budaya, kesenian wayang menyampaikan banyak hikmah tentang kehidupan manusia . “Wayang dalam terminologi kontemporer identik dengan refleksi. Ia adalah penyampaian kembali hikmah-hikmah dan hasil perenungan kebijaksanaan hidup manusia. Bagaimana manusia mengada, hadir, menjalani, dan kemudian pulang kembali ke hadirat Ilahi” ungkapnya. Wayang menjadi fenomenal semenjak ia disempurnakan dan dipergunakan oleh para wali Nusantara dalam melakukan dakwah agama.

“Para wali menyempurnakan wayang ini, tidak hanya pada teknis seni rupanya saja. Mereka bahkan merekonstruksi genealogi dan kosmologinya. Dengan demikian wayang yang berkembang di Nusantara menjadi sangat berbeda dengan berkembang dikalangan Hindu-Budha”. Ungkap ki Herman , yang juga Penulis buku  Nuswantara Negeri Keramat. Oleh sebab itu, meskipun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Namun kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia. “Hal-hal demikian ini bisa ditengarai misalnya saja dari munculnya tokoh Kyai Semar Badranaya” tambahnya.

Banyak makna yang dapat kita ambil dari kesenian wayang, kesenian wayang juga mengajarkan perilaku interaksi sosial yang begitu luhur. “Wayang senantiasa membawa manusia kepada kesadaran interaksi sosialnya yang hamemangun karyenak tyasing sesama. Sebuah pola interaksi sosial yang saling menghargai, menghormati, dan menjaga kemuliaan manusia sebagai makhluk. Tanpa membedakan agama, kepercayaan, maupun ideologinya. Ini semacam prinsip silaturrahmi yang tereksitasi ke ranah semesta alam” tutur ki Herman.

 

Kesenian Wayang Yogyakarta

Yogyakarta dikenal sebagai kota seni ini ternyata memiliki ke-khas-an tersendiri dalam kesenian wayangnya. Ki Herman mengungkapkan bahwa kesenian Wayang Yogyakarta lebih menuansakan kedalaman dan keramatnya budaya Jawa. “Ngayogyakarta Hadiningrat mengemban amanat untuk melestarikan semua tradisi kasepuhan dan keruhanian yang terdapat dalam wayang kulit”. Visual dari wayang di Yogyakarta pun memiliki ke-khas-an yang menggambarkan kekramatannya.  “Kesenian wayang  Ngayogyakarta lebih menuansakan kedalaman dan keramatnya budaya Jawa,  kelirnya hanya selebar 4 meter, wujud wayangnya lebih tegas dan padat-berisi. Tentu saja hal ini berdampak pada pengembangan teknik-teknik pagelarannya”, tambah ki Herman.

Jika masyarakat ingin menyaksikan pagelaran wayangYogyakarta yang masih konservatif, dapat disaksikan di Sasana Hinggil Dwiabad, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di gedung tersebut terdapat pagelaran wayang kulit setiap sebulan sekali, di malam Ahad atau malam Minggu ke dua. Pagelaran wayang kulit ini Oleh : Ryan Afranata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s