Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior / Imron Rosid

Bicara Seni Pahat

Berbicara mengenai seni pahat maka akan berhubungan dengan seni ukir. Perbedaannya terletak pada bidang yang digunakan dalam membentuk kedua seni tersebut. Seni pahat adalah seni ukir yang dibuat dalam bentuk empat atau lima dimensi. Sedangkan untuk seni ukir hanya menggunakan bidang datar, kemudian dibentuk bagian-bagian cekung dan bagian-bagian cembung yang menyusun suatu gambar yang indah. Pengertian ini kemudian berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu, batu, atau bahan-bahan lainnya.

Ada perbedanantara seni pahat dengan seni ukir.Walaupun bahan yang digunakan sama persis dengan yang digunakan oleh seni ukir. Tetapi didalam seni pahat, bukan hanya sekedar melukis diatas batu, kayu, atau bahan lainnya. Dalam seni pahat kita harus dapat membuat suatu bentuk yang sesuai dengan keinginan kita. Jadi nantinyaakan berupa bentuk yang didalamnya terdapat ukiran-ukiran yang tampak indah .

Seni pahat yang ada di Indonesia mula-mula dapat kita lihat dari perkembangan seni ukir yang ada di Indonesia. Bangsa Indonesia mulai mengenal ukir sejak zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM. Pada zaman itu, nenek moyang bangsa Indonesia telahmembuat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan, dengan bahan tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit, dan tanduk hewan. Sedangkan padazaman perunggu yang berkisar tahun 500 hingga 300 SM, bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya.Dalam pembuatan ukirannyasendiri menggunakan teknologi cor. Motif-motif yang di gunakan pada masa zaman perunggu adalah motif meander, tumpal, pilin berganda, topeng, serta binatang maupun manusia.

Motif meander ditemukan pada nekara perunggu dari gunung merapi dekat Bima.Motif tumpal ditemukan pada sebuah buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat. Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu dari kerinci, Sumatera. Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba. Dan pada kapak perunggu dari danau Sentani, Irian Jaya. Motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kejahatan. Sedangkan motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean, setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke Indonesia.

Seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada bagian-bagian candi dan prasasti-prasasti yang dibuat orang pada masanya untuk memperingati para raja-raja. Bentuk ukirannyadapatkitalihat pada senjata-senjata (keris dan tombak), batu nisan, masjid, keraton, alat-alat musik (seperti;gamelan), dan wayang. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, terkadang berisi tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dan lain-lain. Bukti-bukti sejarah peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran di Blitar, candi Prambanan dan Mendut di Jawa Tengah.

Pada masa kemasa, seni ukir masyarakat berkembangdanmulai mengenal seni pahat. Masyarakat tidak lagi hanya mengukir pada batu atau kayu saja melainkan sudah mulai membuat suatu bentuk agar seni ukirannya lebih menarik.

Saatiniseniukir kayu dan logam sudah mengalami perkembangan pesat. Fungsinya pun sudah bergeser dari hal-hal yang berbau magis berubah menjadi hanya sebagai alat penghiassaja. Hal ini terlihat pada, makin banyaknya beredar dimasyarakat ukiran-ukiran atau patung-patung yang sifatnya hanya sebagai hiasan didalam rumah saja. Biasanya pada ukiran kayu meliputi motif Pajajaran, Majapahit, Mataram, Pekalongan, Bali, Jepara, Madura, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, dan berbagai macam motif yang berasal dari luar Jawa.Contoh lain daripergeseran fungsi seni pahat adalah mengenai patung. Kita sering melihat ada dua patung besar ada di depan sebuah rumah yang besaratupunmegah, kita menyebutnya dengan sebutan Gupolo (bahasa Jawa). Sebernarnya dahuluduapatungitu merupakan perlambanganatausimbol dari seseorang yang dihormati. Namun, sekaranginiperlambangantersebutsudahbergesermaknanyayaknihanya menjadi patung penjagapenghias rumah saja.

Perkembangan seni pahat di Yogyakarta dapat dilihat disebuah desa di Bantul yogyakarta. Seni pahat sangat berguna sebagai mata pencaharian dari warga desa. Dalam satu desa itu, warganya sama-sama mengembangkan seni pahat menjadi sebuah seni yang laku untuk diperdagangkan bahkan sampaimenembuspasarluar negeri. Pengembangan seni pahat ternyata membuatseniini menjadi semakin digemari dikalangan masyarakat. Walaupun mungkin telah bergeser fungsi menjadi  sekedar hiasan ataupun cinderamata

Oleh: Imron Rosid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s