David Mahendra / Musik / Pentas | Teater

-Sub Headline- Randai, Drama Musikal Ala Minangkabau di Yogyakarta

Randai adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara. Randai di Minangkabau suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang, berkelompok atau beregu, dimana dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.Pemeran utama berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut. Sekarang ini Randai merupakan sesuatu yang asing bagi pemuda-pemudi Minangkabau, hal ini dikarenakan bergesernya orientasi kesenian atau kegemaran dari generasi tersebut. Pada awalnya Randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. namun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara modern.

Kesenian randai ini juga menjadi bagian dari kegiatan komunitas mahasiswa di Yogyakarta yang berasal dari Sumatera Barat. Salah satu Komunitas itu adalah Iktan Mahasiswa Minangkabau atau yang disingkat dengan IMAMI. Kegiatan IMAMI tidak hanya berkutat dalam urusan organisasi saja, tetapi juga melakukan kegiatan lain seperti olahraga dan kesenian. Ini menjadi kegiatan tahunan yang menjadi bagian dari program kerja IMAMI. Sehingga anggota IMAMI tidak hanya disibukkan oleh kegiatan keorganisasian saja. Mereka juga butuh kegiatan seni supaya kerinduan akan kampung halaman bisa sedikit terobati dengan danya kesenian Minangkabau ini. Selain itu kesenian juga menjadi sarana hiburan sekaligus sarana untuk mem-branding budaya Minangkabau di daerah lain, khususnya Yogyakarta.

Acara randai hanya dilakukan sekali dalam setahun oleh IMAMI, tetapi akhir-akhir ini randai sudah sangat susah untuk ditemui di kalangan mahasiswa Minang yang berada di Yogyakarta. Usaha untuk tetap melestarikan tradisi mengalami kendala karena faktor mahasiswa itu sendiri. Ini bisa di ibaratkan dengan sebuah Rumah Gadang yang berada dalam keadaan kritis dan hampir runtuh, karena tidak pernah dirawat. Ini harus menjadi perhatian semua mahasiswa Minang yang berada di Yogyakarta, karena selain sebagai kesenian randai juga bisa menjadi sarana pemersatu bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Kota Gudeg ini. Mari lestarikan budaya asli bangsa, jangan sampai buday pribumi terusik dengan ekspansi budaya luar.

By : David Mahendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s