Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior / Muhamad Rifefan

-Sub Headline- Persatuan Di Tugu Jogja

Siapapun yang pernah pergi ke Jogja pasti selalu menyempatkan diri untuk pergi ke Tugu Jogja untuk sekedar berfoto-foto atau bahkan sebuah “ritual” wajib jika pergi ke Jogja. Mahasiswa yang datang ke Jogja percaya bahwa belum lengkap kalau mereka belum dating ke tugu pal putih ini. Ada juga yang beranggapan bahwa jika ergi ke Tugu ini maka aka nada sebuah harapan untuk bisa kembali lagi ke Jogja. Tugu yang terdapat di tengah kota Jogja ini sangat mudah untuk didatangi. Selain itu juga Tugu Jogja jika diperhatikan memiliki garis imajiner yang sejajar dengan lokasi Pantai Selatan,Kraton, dan juga Gunung Merapi.

Tugu Jogja diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono pertama pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Pada awalnya bentuk tugu adalah Golong-Gilig, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig dan memiliki makna satu kesatuan tekad cipta, rasa dan karsa. Secara rinci, awal Tugu Jogja dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas, bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter. Makna lebih jauh adalah bersatunya raja dan rakyatnya dalam perjuangan melawan musuh maupun menyatu dalam membentuk pemerintahan dalam satu negara. Di sisi lain juga bisa dimaknakan sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Khalik. Jika melihat makna Tugu Golong-Gilig adalah bersatunya antara raja dan rakyat, maka hal itu bisa di mengerti karena pendiri Kerajaan Yogyakarta – kala itu – dikenal sebagai pemberontak yang ingin memisahkan diri dari Kerajaan Mataram Islam yang justru dikuasai penjajah Belanda. Pangeran Mangkubumi (kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I) memilih memberontak dan memisahkan diri daripada kerajaan di bawah pengaruh kekuasaan Belanda.

Bangunan Tugu ini pernah runtuh saat gempa yang dahsyat mengguncang Jogja pada saat itu. Hal itu kemudian Belanda mengambil inisiatif untuk merenovasi bentuk bangunan tersebut. Bangunan tugu dibuat lebh rendah hanya sekitar 15 meter. Bentuk yang awalnya berbentuk Golong-Gilig kemudian di buat berubah menjadi seperti persegi dan puncaknya tak lagi bulat melainkan kerucut. Berbagai sumber : wisatanews.com and yogyes

By : Muhamad Rifefan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s