Eti Nur Khotimah / Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior

Pola Internalisasi Arsitektur Seni Banggunan Monjali

Internalisasi dalam arsitektur jawa sebenarnya sudah dapat dilihat pada zaman pra sejarah, mengingat bahwa salah satu saluran wisata sejarah peninggalan nenek moyang dijawa dilakukan melalui karya seni arsitektur diantaranya adalah monjali(monument yogjakarta kembali). Monumen yogja kembali berdiri pada tanggal 29 juni 1985  yang terletak didusun jongkong kelurahan sariharjo kec. Ngaglik kabupaten Sleman yang berbentuk gunung, yang kini menjadi lambang kesuburan yang mempunyai makna melestarikan kebudayaan nenek moyang.

masyarakat jawa telah memiliki kemampuan dalam melahirkan karya seni arsitektur baik, yang dijiwai oleh nilai asli jawa, hal ini dibuktikan dengan telah berdiri berbagai bangunan seperti Candi, Keraton, Benteng dan bangunan-bangunan berarsitektur khas lainnya. Peletakan bangunan monjali mengikuti budaya Yogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Keraton, Poros marko kosmos atau sumbu besar kehidupan, yang tinggi nya sekitar 31,8 meter.

Ketika  kita memasuki area monumen tersebut yang terletak dipusat Yogja, pengunjung akan di sambut dengan beberapa replika sejarah diantaranya replika pesawat cureng di dekat pintu timur serta replika pesawat guntai didekat pintu barat, menaiki podium dibarat dan timur pendatang bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun  menuju pelataran monument kaki gunung disebelah timur terletak dinding yang memuat 420 nama dan setra puisi kerawang

beberapa tata penataan dalam arsitek seni monumen dikeliling oleh

1. kolam jagang yang dibagi 4 jalan menuju banggunan utama biasanya dijadikan sebagai jalan barat dan timur yang menghubungkan  dengan pintu masuk lantai satu yang menyajikan sekitar 1000 koleksi tentang tragedi 1 maret, ruangan yang berbentuk lingkaran dengan diameter 25 meter ini berfungsi sebagai ruangan serbaguna

2.sementra itu jalan yang menghubungkan  dengan tangga menuju lantai 2 pada dingding luar yang melingkari banggunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai 17 Agustus  1945 sampai 28 Desember 1949. Di dalam banggunan berisi 10 diaroma yang mengambarkan rekaan situasi.

3. lantai atas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran dilngkapi dengan tiang bendera merah putih, ditrngah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.

Konsep tata ruang seperti ini mengingatkan kita kepada sejarah perjuangan jaman dahulu dan memberi nasehat bahwa kita harus belajar mengenal masa-mas perjuangan dan pengorbanan yang penuh derita pahit. Pada arsitektur bangunan Monjali kita dapat menyaksikan para arsitek mengakomodasi  unsur-unsur seni dan kebudayaan yang khas. Arsitektur Monjali yang khas ini dapat menjadi media penyampaian pesan sejarah pada pemuda-pemudi bangsa ini dan semoga pesan tersebut dapat diterima sebagaimana mestinya.

By : Etih Nur Khotimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s