Desi Kurnia / Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior

Melihat sisi lain dari Keraton Ngayogyakarta

Keraton Ngayogyakarta atau Keraton Yogyakarta dikenal secara umum oleh masyarakat sebagai bangunan istana salah satu kerjaan nusantara. Keraton merupakan salah satu bangunan yang tak dapat dipisahkan dengan kota Yogyakarta. Keraton selain sebagai tempat tinggal raja dan keturunannya, juga merupakan bangunan budaya yang bersejarah di kota Yogyakarta itu sendiri.

Selain itu istana Sultan Yogyakarta ini juga diselubungi oleh mitos dan mistik yang begitu kental. Bangunan Keraton dengan arsitektur Jawa yang elegan ini terletak di pusat kota Yogyakarta. Bangunan Kraton membentang dari utara ke selatan. Halaman depan dari Kraton disebut alun-alun utara dan halaman belakang disebut alun-alun selatan. Desain bangunan ini menunjukkan bahwa Kraton, Tugu dan Gunung Merapi berada dalam satu garis atau poros yang dipercaya sebagai hal yang keramat.

Pada waktu lampau Sri Sultan biasa bermeditasi di suatu tempat pada poros tersebut sebelum memimpin suatu pertemuan atau memberi perintah pada bawahannya. Arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukirannya, hiasannya, sampai pada warna gedung-gedungnyapun mempunyai arti. Pohon-pohon yang ditanam di dalamnya bukan sembarangan pohon. Luas dari keraton sendiri, adalah 14.000 meter persegi. Didalamnya terdapat banyak bangunan-bangunan, halaman-halaman dan lapangan-lapangan.

Semua yang terdapat disini seakan-akan memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. Untuk mengenai siapa arsitek dari bangunan Keraton Yogyakarta, tidak lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sri Sultan membangun Keraton Yogyakarta selain bergaya asitektur Jawa tradisional, akan tetapi dibeberapa bagian tertentu terlihat adanya sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, banhakn hingga negara China.

Keraton Yogyakarta di bangun dengan dikelilingi oleh sebuah tembok besar dan lebar yang disebut dengan julukan benteng. Panjang dari tembok ini mencapai 1 km yang berbentuk empat persegi yang mempunyai tinggi 3.5M, lebar sekitar 3M samapi 4M. Di halaman inti keraton, terlihat tempat tinggal Sri Sulta yang biasanya dijadikan sebagai tempat untuk menerima tamu kehormatan atau menyekenggarakan pesta. Selain berfungsi untuk tersebut, tempat tersebut juga terdapat keputren atau tempat tinggal putri – putri Sultan yang belum menikah. Didalam keraton memliki berbagai bangunan yang tiap bangunan tersebut memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya dengan jabatan penggunanya.

By : Desi Kurnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s