Eti Purnaningrum / Musik / Pentas | Teater

Alunan Tari Aceh

Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan, selain itu juga mengusung  sebagai kota seni. Memanglah tidak salah kedua predikat itu melekat di kota yang menjadi daerah istimewa yang ada di Indonesia. Banyak pelajar maupun mahasiswa dari daerah – daerah lain yang menimba ilmu di Yogyakarta. Selain dari daerah Jawa sendiri para pelajar banyak yang datang dari luar Jawa seperti , Sumatra, Kalimantan, Bali, sampai Irian Jaya pun ada, semuanya lengkap ada di kota pelajar ini. Tujuan utama mereka adalah untuk menuntut ilmu. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mengembangkan potensi seni dari daerah asal mereka tinggal untuk dikembangkan dan diperkenalkan di Yogyakarta. Hal ini menjadi sangat menarik yang menjadikan kota Yogyakarta Indonesia mini yang berisi dengan beraneka ragam budaya dari berbagai pelosok – pelosok daerah yang ada di negeri ini .

Berbicara seni yang ada di Yogyakarta,  Aceh adalah salah satu kota yang keseniannya, khususnya tari dikembangkan di kota ini. Mereka yang mengembangkan dan memperkenalkan tari Aceh tergabung dalam komunitas yang bernama “SePAT” ( Seniman Perantauan Atjeh).  SePAt adalah organisasi yang mengimpun keluarga besar Aceh dan bergerak dalam bidang kesenian. Komunitas ini berdiri pada tahun 2008, dan eksistensi SePAT sudah dikenal dilingkup kota Yogyakarta dan Pulau Jawa.  Oleh M. Tazbir Abdullah S.H, M.Hum yang merupakan salah satu Dewan Pembina SePAT dan sekarang ini menjabat sebagai kepala Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan bahwa, Beliau sangat mengapresiasi adanya wadah (tempat) berhimpunnya para seniman dari Aceh yang berada di Yogyakarta dan Beliau juga berharap lahirnya SePAT akan memebawa inisiatif dan juga terobosan – terobosan baru dalam dunia  kesenian Aceh (Tribun.news)

Komunitas SePAT terbagi menjadi dua team, yaitu penari wanita dan laki – laki . Pada kelompok wanita, mereka berlatih rutin tiap hari Senin jam 16.00 WIB dan Sabtu setiap jam 15.00 WIB, waktu latihan mereka kurang lebih berdurasi dua jam. Dengan pelatih mereka yang biasa disapa dengan ‘Bang Aul’ mereka berlatih tari Aceh tiap dua kali dalam seminggu. Komunitas seni tari Aceh ini  berlatih di Taman Pelajar Aceh (TPA) yang beralamat di jalan Kartini No. 1a Sagan, Yogyakarta. Tarian yang mereka tarikan seperti tari “ratoh doek” , “Likok Pulo” dan “pukat” yang merupakan beberapa dari banyak tarian yang ada di Aceh. Dengan tekun Bang Aul melatih mereka sampai mereka mengikuti beberapa event yang bergengsi seperti  Festival Malioboro, DINAMIT UPN Yogyakarta, Festival Jogja “The City of Tolerance”, dan STTA (Sekolah Tinggi Teknologi Adisucipto).

“Tidak semua penari yang tergabung dalam SePAT adalah orang – orang perantauan dari Aceh. Banyak diantara mereka bukan asli Aceh, tetapi mereka bersemangat untuk berlatih dan mendalami tarian dari  daerah asal kami” tuturan dari Bang Aul pelatih sekaligus sebagai pengurus dari komunitas SePAT di Yogyakarta.  Para penari – penari Aceh ini tidak semua berasal dari daerah asli Aceh, namun ada pula yang berasal dari luar kota Aceh.  Yang semuanya dengan semangat berkreasi dan berseni, mereka secara tidak langsung ikut melestarikan budaya warisan nenek moyang negeri. #keepspirit

By : Eti Purnaningrum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s