Musik / Pentas | Teater / Ryan Afranata / Seni Pertunjukan

KAMASETRA, Obat Penawar Arus Globalisasi

KAMASETRA mungkin sebuah nama yang terdengar asing ditelinga pembaca, namun nama ini tentunya sudah akrab ditelinga para seniman, khususnya yang berada di Yogyakarta. KAMASETRA adalah singkatan dari Keluarga Mahasiswa Seni Tradisi, KAMASETRA yang Merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) adalah wadah tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang memiliki keinginan luhur untuk melestarikan kebudayaan yang ada di tanah air ini khususnya di bidang tradisi. Organisasi yang berada di bawah naungan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini telah berdiri semenjak 1981, usia yang cukup mapan untuk sebuah unit kegiatan mahasiswa.

Pada awalnya KAMASETRA dinamakan dengan UST-KRW atau Unit Seni Tradisi dan Karawitan, setelah melalui beberapa pertimbangan nama tersebut diganti dengan maksud untuk lebih mengembangkan cangkupan seni dan memperkuat landasan kekeluargaan yang ada di organisasi ini. Pergantian nama tersebut terbukti ampuh, karena pada mulanya UST-KRW hanya memiliki dua divisi yaitu divisi Tari dan Karawitan sesuai dengan namanya. Setelah berganti nama menjadi KAMASETRA, divisinya pun berkembang menjadi empat, ditambah dengan divisi teater jawa dan pedalangan.

Misi lain yang ingin diwujudkan KAMASETRA adalah untuk membangun kekeluargaan bagi internal organisasi, seperti yang diakui sendiri oleh sekretaris KAMASETRA, bahwa organisasi ini tidak hanya wadah untuk mengembangkan kemampuan seni tapi juga berlandaskan kekeluargaan. ” KAMASETRA tidak hanya sekedar tempat kita mengembangkan kemampuan seni tapi disini kita juga keluarga, keluarga yang saling bekerjasama dan saling membantu dalam mewujudkan visi-misi dari KAMASETRA “, ungkap mahasiswi yang akrap disapa dengan Nurul.

Hal menarik lain yang dikembangkan dalam organisasi ini adalah unggah-ungguh atau sopan santun. Masih menurut nurul, unggah-ungguh merupakan salah satu hal penting yang harus dijaga jika kita ingin tetap melestarikan budaya di tanah air ini. Kemajuan teknologi yang telah menghilangkan batas ruang dan waktu, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan dengan mudahnya berbagai kebudayaan dari barat memasuki negeri ini.

Budaya barat tersebut tentunya secara langsung maupun tak langsung dapat mengikis kecintaan anak negeri terhadap budayanya dan melahirkan anak negeri yang tidak peka lagi dengan budayanya. “unggah-ungguh salah satu materi yang kami kembangkan dalam KAMASETRA, karena pada dasarnya unggah-ungguh merupakan salah satu kebudayaan kita yang sangat adi luhur. Jadi kalau unggah-ungguh ini tidak lagi dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, kita sendiri yang akan rugi mas”, jelas Nurul, yang merupakan mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Jawa. “mungkin sebagian orang menganggap unggah-ungguh adalah hal kecil, tapi itu adalah sebuah pelajaran besar”, tambahnya.

Semoga KAMASETRA tetap akan menjaga visi dan misinya yang luhur demi negeri ini, dan senantiasa peka terhadap perkembangan zaman sehingga UKM KAMASETRA mampu terus berkembang dalam era globalisasi dan modernisasi ini.

Reported by : Ryan Afranata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s