Endah Amanah / Musik / Pentas | Teater / Seni Pertunjukan

Wayang Kulit Pelestarian Budaya Tradisional

Wayang kulit, sebuah peninggalan berharga dari nenek moyang yang ternyata telah berusia lebih dari lima abad. Sebuah seni pertunjukan yang sampai detik ini masih diminati oleh banyak orang. Dan tentunya masih menyimpan sejuta pesan dibalik kesederhanaannya. Wayang kulit secara umum dimainkan dalam dua versi, yaitu versi Ramayana dan versi Mahabarata. Di mana versi Ramayana menceritakan tentang riwayat Ramawijaya, Rahwana dan lain sebagainya. Sementara dalam versi Mahabarata biasanya dimainkan oleh tokoh pewayangan yaitu Pandhawa dan Gatot kaca.

Keraton Yogyakarta mementaskan pertunjukkan wayang kulit yang dikemas dengan sangat menarik. Iringan yang terdengar damai tentunya mengandung berbagai filosofi yang berorientasi pada pedoman-pedoman hidup (13/10/2012). Pertunjukan wayang kulit, tidak lepas dari peran seorang dalang. Dalang tidak hanya mempertunjukkan keunikan wayang kulitnya saja, tetapi dengan wayang kulit seorang dalang berusaha untuk selalu menyampaikan berbagai pesan berharga untuk kita ambil manfaatnya. Tema yang diambil oleh seorang dalang merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta, sangat tepat untuk disampaikan kepada generasi muda Indonesia. Yaitu sebuah budaya tradisional yang saat ini semakin terpinggirkan oleh kemajuan zaman.

Bahasa Daerah, itulah esensi pesan yang disampaikan selama pertunjukkan berlangsung. Sebuah pertunjukkan yang mengingatkan kita sebagai generasi muda bahwa betapa pentingnya sebuah bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. Salah satu usaha pelestarian budaya tradisional adalah harus mengetahui Bahasa Jawa. Saat ini banyak sekali para orangtua yang justru membiasakan para anak-anaknya berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, bukan lagi Bahasa Jawa. Mereka merasa bahwa saat ini menggunakan Bahasa Jawa sudah tidak zamannya lagi. Selain itu juga Bahasa Jawa terlalu banyak tingkatannya, sehingga lebih sulit untuk dipahami.

Secara intonasi, penggunaan Bahasa Jawa lebih sopan dan enak untuk didengar. Sementara jika menggunakan Bahasa Indonesia dengan kalimat yang sama, intonasinya akan berbeda dan terdengar biasa saja, bahkan terkadang terdengar kasar. Penggunaaan Bahasa Jawa juga dapat mendidik budi pekerti seorang anak sejak usia dini. Terbiasa berkata sopan dan lemah lembut kepada siapapun. Selain itu, Bahasa Jawa juga merupakan garis besar budaya tradisional.

Oleh karena itu, jika kita ingin budaya kita maju, alangkah lebih baiknya jika kita sebagai generasi muda senantiasa memelihara serta melestarikan budaya tradisional termasuk Bahasa Jawa.

Reported by : Endah Amanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s