Dani Safitri / Grafis | Murni | Kriya | Interior | Eksterior / Seni Rupa

-Sub Headline- Trik Sulap Perak ala Pak Sumar

Kotagede merupakan pusatnya para pengrajin perak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak jarang banyak wisatawan lokal maupun luar negeri yang datang kesana, meskipun sekedar untuk turut menikmati berbagai macam jenis dan bentuk kerajinan peraknya. Namun pernahkah terbesit dalam pikiran kita mengenai alat yang digunakan dan proses pembuatan kerajinan perak itu? Berkaitan dengan hal ini, saya akan sedikit mengupas beberapa hal yang berkaitan erat dengan cara menghasilkan sebuah handicraft yang berbahan dasar perak. informasi ini saya dapat dari bapak Sumar yang merupakan salah satu pengrajin perak di Kotagede.

Proses pembuatannya ternyata tidak serumit dan seribet yang kita bayangkan. Hanya saja memang membutuhkan ekstra ketelitian dari si pengrajin perak, karena memang bentuk dan hasilnya yang indah untuk dinikmati. Alat yang digunakan pun tidak seperti ketika kita hendak menyulap tepung terigu dan telur menjadi sebuah roti. Pembuatan kerajinan tangan yang satu ini menggunakan bahan dasar acir. Acir adalah bakal perak yang berupa gumpalan-gumpalan kecil. Gumpalan perak ini diperoleh dari hasil penyaringan perak yang terkandung didalam tanah. Pada umumnya, pembuatan handicraft perak ini menggunakan campuran 2 gram tembaga untuk per 1 ons perak murni.

Pada mulanya acir dilebur menggunakan alat yang disebut compressor atau gembosan (istilah jawanya). Peleburan ini akan membentuk acir tadi menjadi semacam kawat perak yang panjang. Setelah itu kawat tadi akan dipertipis (diplepet) menggunakan alat yang disebut dengan tampar. Setelah kawat tadi tipis, yang harus dilakukan selanjutnya adalah menyulap kawat perak tadi menjadi berbagai bentuk hasil karya. Misalnya kalung, gelang, cincin, bros, giwang, dan bentuk kerajinan perak lainnya. Tahap ini merupakan tahap yang kerap dinanti oleh pengrajin perak karena dengan hanya beralatkan gunting, supit serta patri, acir yang dulunya hanya berbentuk gumpalan, sekarang menjadi sebuah cindera mata nan mempesona. Namun rupanya bentuk indah saja belum cukup untuk memanjakan mata. Oleh karena itu tahap selanjutnya adalah pemutihan perak yang dilakukan dengan menggunakan tawas, kemudian disangling atau dibuat menjadi “cling”. Proses sangling ini menggunakan alat yang akrab disebut dengan kopyokan (semacam wadah yang berisikan air dan gotri khusus untuk membersihkan perak). Setelah semua tahap selesai, tahap terakhir yang arus dilakukan adalah menjemurya, penjemuran ini dimaksudkan agar hasil perak lebih maksimal.

Reported By Dani Safitri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s