Eti Nur Khotimah / Musik / Pentas | Teater / Seni Pertunjukan

Kraton Ngayogyakarta

Berbincang tentang kota Yogyakarta, sepintas yang ada dalam pikiran kita adalah mengambarkan kota yang mempunyai gudangnya kesenian. Yogyakarta merupakan salah satu tempat lahirnya kebudayaan, yang tidak bisa lepas dari predikat kota pariwisata . Hal ini bisa terlihat dari gambar (mural) di  berbagai sudut kota seni ini, sehingga membuat  para turis asing atau lokal yang ingin melihat  atau menyaksikannya, dan tak lupa mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta, merupakan pusat pemerintahan pada jamannya. Bangunan Istana Jawa ini tidak lepas dari usaha sang raja Yogyakarta ketika itu untuk membangun pusat pemerintahan. Sedang untuk menjaga kerukunan pejabat keraton dan anggota keraton lainnya, ada penyelenggaraan kesenian tari untuk menghibur sang raja dan pangeran dalam acra-acara tertentu. Tarian yang ditampilkan biasa dilakukan oleh para abdi dalem perempuan. Pakaian tari yang digunakan adalah pakaian adat yang masih kental akan kebudayaan Jogja. Abdi dalem wanita ini terdiri dari dua jenis, yakni kepara (Abdi dalem wanita yang biasa melayani sultan sehari-hari), magung ( Abdi dalem wanita yang biasa yang bertugas membawakan alat-alat   musik  atau emas perhiasan ).

Selain ada abdi dalem keraton, ada pula penari-penari keraton. Panari keraton tampil dalam acara petunjukan kesenian keraton ataupun dalam perjamuan raja. Wilayah keraton ini tidak pernah lepas dari adat istiadat Jawa yang kental. Hal ini bisa terlihat dari cara berpakaian adat Jawa, seperti kebaya, blangkon, sanggul, perhiasan dan aksesoris orang keraton dan abdi dalem. Aksesoris yang sering dikenakan oleh para abdi dhalem wanita adalah :

1.Pakaian  Adat

2.Sanggul

3.Kain Jarik

4.Kain Kemben

Abdi dhalem wanita ini tetap mempertahankan pakaian ala keraton dan pernak pernik yang  merupakan bagian dari budaya Jawa. Orang Jawa memiliki sifat yang feodalitas , mereka sangat hormat dengan keluarga raja. Sikap seperti ini sampai sekarang masih terasa dilingkungan keraton. Ketika ada tamu undangan ataupun ada hajat keraton selalu diadakan penyambutan dan penyelenggaraan yang meriah. Ini sebagai wujud saling menghormati dan rasa syukur kepada sang pencipta.

Reported by : Etih N K

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s