Desi Kurnia / Musik / Pentas | Teater / Seni Pertunjukan

Giatno, Sang Dalang Kraton Ngayogyakarta

Pertunjukan wayang kulit saat ini bisa dibilang jarang keberadaannya, mengingat  perkembangan zaman sekarang ini. Salah satu tempat yang masih menyajikan pertunjukan wayang kulit adalah keraton Yogyakarta. Berbicara mengenai wayang kulit, tidak lepas dengan sosok seorang dalang. kita sering lupa bahwa dibalik pertunjukan wayang kulit, ada sosok yang tak kalah penting dari hidupnya sebuah cerita wayang yang dimainkan. Mendengar kata dalang tentunya sudah tidak asing lagi, karena wayang kulit dan dalang merupakan satu paket wajib dalam suatu acara pertunjukan wayang kulit. Dalang dalam wayang kulit ialah seseorang yang memainkan berbagai peranan, antaranya sebagai penulis cerita, pengarah lakonan, pengatur pentas, penyusun iringan, pengisah, pemain, watak dan penyanyi. Secara sederhana dalang merupakan seorang yang mempunyai kemahiran dalam pewayangan, serta seorang pemimpin dalam pertunjukan dan kumpulannya.

Dalang dalam pertunjukan wayang kulit keraton sendiri tidak sembarang dalang yang digunakan. Karena dalang yang terdapat di keraton Yogyakarta merupakan abdi dhalem dari keraton Yogyakarta itu sendiri. Seperti pementasan wayang kulit di keraton Yogyakarta pada hari sabtu (13/10), pertunjukan tersebut di pandu oleh seorang dalang abdi dhalem yang bernama Giatno Cermo Gundolo. Beliau merupakan seorang dalang di Keraton Yogyakarta, ia menggeluti profesi dalang Keraton semenjak tahun 1975 sampai sekarang. Dalang Giatno, belajar mendalang dari ayahnya, kebetulan dahulu ayahnya juga merupakan dalang Keraton Yogyakarta. Menurutnya untuk peranan dalang, seorang dalang harus mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Seperti yang diujarkan saat ditemui setelah pementasan wayang kulit di keraton, “Untuk menjadi seorang dalang, sama halnya menjadi mahasiswa, harus pandai, berwawasan luas, mempunyai keahlian, tutur wacana baik”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sudah tentu, berbagai ilmu harus dipelajari, meskipun hanya sedikit, supaya dapat menyesuaikan cerita dengan perkembangan zaman dan nilai-nilai kekiniannya. Untuk penampilannya sendiri seorang dalang biasanya menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan blangkonnya. Penampilan seperti inilah yang membedakan dalang Yogyakarta dengan dalang daerah lain. Meskipun mereka sama-sama berprofesi sebagai dalang.

Reported by : Desi Kurnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s