David Mahendra / Musik / Seni Pertunjukan

-Sub Headline-Harmonisasi Khas Musik Jazz

Meskipun musik jazz di Indonesia menempati nomor kesekian dari musik-musik lainnya tetapi Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dalam ragam musiknya. Musik jazz dipandang sebagai musik golongan sosial tertentu saja, berawal dari kedatangannya ke Indonesia untuk menghibur orang asing yang menduduki bumi Indonesia, dengan kemasan elit. Dan pada perkembangannya pun musik jazz di Indonesia banyak dipentaskan di hotel, cafe dan tempat elit lainnya. Meskipun pada akhirnya musik jazz bisa juga dinikmati masyarakat awam, namun kesan bahwa musik jazz sebagai musik elit masih melekat pada masyarakat Indonesia sampai saat ini.

Berangkat dari fenomena ini, seorang musisi Djaduk Ferianto memiliki ambisi untuk memperbaiki citra musik jazz yang bersifat elit tersebut dengan musik jazz yang dapat diapresiasi semua lapisan masyarakat dan mampu berbaur dengan budaya setempat. Upaya kerjasama dengan WartaJazz, Hattakawa –linkage dan Novindra –beyond the stages, yang akhirnya mengusulkankan gagasan event jazz festival dengan nama Ngayogjazz, sebagai bentuk apresiasinya terhadap musik jazz dan sekaligus memperbaiki citra musik jazz yang telah ada.   (www.ngayogjazz.com )

Musik jazz memiliki ciri khas. Musik Jazz memiliki 4 karakteristik yang menjadikan musik ini berbeda dari jenis musik lain. Yang pertama Bluetonality, merupakan jenis irama yang mirip dengan nada Blues. Hal ini dikarenakan awal musik Jazz berasal dari musik Blues. Cita rasa Blues dapat didengar dari permainan gitar musik jazz, apalagi ketika seorang gitaris melakukan aksi Solonya, irama yang diciptakan seperti irama Blues. Yang kedua Swinging, merupakan ciptaan irama yang terasa mengayun. Irama swinging ini sering kita dengarkan seperti lagu-lagu milik James Blunt, Michael Buble atau Maliq & D’Essentials, Abdul & The Coffee Theory di Indonesia. Ketiga, Sycopation(Singkup). Dasar dari singkup adalah up tempo. Seperti Echa Soemantri yang sedang bermain Drum atau betotan Bass Barry Likumahuwa. Tempo nada dalam lagu bisa seketika naik. Singkup ini banyak di pakai di aransemen lagu-lagu modern. Yang terakhir, Improvisasi. Musik Jazz membutuhkan improvisasi yang lebih ketimbang jenis musik lain. Improvisasi jenis musik ini lebih ke solo instrument dan scatsing vokalis, dimana not-not yang keluar bukan hafalan dari backstage, tetapi spontan di stage, yang dengan kata lain, musisi Jazz langsung menciptakan musik “on the stage“. Improvisasi seperti ini jarang terdapat pada musik-musik lain, kebanyakan musik hanya mengikuti susunan lagu ketika latihan dan kalaupun ada improvisasi itu telah direncanakan sebelumnya. Improvisasi spontan pada musik jazz memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar jazz.

Dalam musik Jazz terdapat alat musik yang tidak biasa ditemui ketika melihat musisi memainkan lagu pop ataupun lagu rock yang populer di Indonesia. Adalah Saxofone, alat musik yang tidak begitu dikenal masyarakat awam. Pada beberapa penyelenggaraan Java Jazz di Indonesia Peter F. Gontha, sang empunya Festival Jazz terbesar di Indonesia itu mengundang Dave Kozz, salah satu pemain Saxofone dunia yang pernah berduet dengan Ada Band menyanyikan lagu Manusia Bodoh. Saxofone memberikan warna berbeda bagi musik jazz, terkadang suara Saxofone ini terdengar begitu menyayat hati, kadang juga sangat catchy dan enak untuk didengarkan. Hingga sekarang sering kali kita saksikan musik jazz yang dipadukan dengan Saxofone seperti yang dilakukan oleh penyanyi Tompi dan band nya.

 

Reported by David Mahendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s